TVRINews, Fakfak
Perdagangan Pala Tomandin memberikan kontribusi terhadap perekonomian Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Hingga Oktober 2026, nilai transaksi perdagangan antarpulau komoditas unggulan tersebut tercatat mencapai Rp189,39 miliar. Sementara itu, penerimaan retribusi dari pengawasan dan uji mutu pala mencapai Rp572,25 juta.
Berdasarkan data rekapitulasi Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, nilai transaksi perdagangan pada Oktober 2026 mencapai Rp15,29 miliar. Angka tersebut menggambarkan aktivitas perdagangan hasil perkebunan pala dari Fakfak menuju sejumlah pasar antarpulau.
Dari sisi penerimaan daerah, retribusi pada Oktober tercatat sebesar Rp66.568.800. Jumlah itu meningkat Rp15.252.800 atau sekitar 29,72 persen dibandingkan September 2026 yang mencapai Rp51.316.000.
Jika dibandingkan dengan Januari 2026, ketika penerimaan retribusi tercatat Rp48.061.500, angka Oktober meningkat sekitar 38,51 persen.
Penerimaan tersebut berasal dari pengawasan dan uji mutu perdagangan Pala Kulit, Pala Ketok, Fuli Pala, serta pelayanan sertifikasi peredaran bibit pala.
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmorojati, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa pala tidak hanya menjadi komoditas perkebunan, tetapi juga berperan dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.
"Kalau kita melihat nilai transaksi perdagangan Pala Tomandin hingga Oktober yang mencapai sekitar Rp189,39 miliar, dengan transaksi pada Oktober saja sebesar Rp15,29 miliar, ini menunjukkan bahwa pala bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi merupakan sumber penghidupan dan penggerak ekonomi masyarakat Fakfak. Di balik angka transaksi tersebut terdapat hasil kerja keras petani pekebun, pedagang pengumpul, pelaku usaha, dan seluruh masyarakat yang terlibat dalam rantai perdagangan pala," ungkap Widhi.
Menurut dia, perputaran ekonomi dari perdagangan pala turut memengaruhi pendapatan masyarakat, terutama petani pekebun sebagai produsen utama. Hasil penjualan pala menjadi salah satu sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, pendidikan, kesehatan, hingga pemeliharaan kebun.
Widhi menilai keberhasilan pembangunan sektor perkebunan tidak cukup diukur dari peningkatan produksi dan penerimaan retribusi. Manfaat ekonomi dari komoditas tersebut juga harus dirasakan langsung oleh petani dan keluarganya.
"Harapan kita, nilai ekonomi yang dihasilkan dari perdagangan pala ini dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Petani pala harus menjadi bagian utama yang menikmati nilai tambah dari komoditas unggulan daerahnya sendiri. Karena itu, kita perlu menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi, kualitas, tata niaga, harga yang baik, dan keberlanjutan kebun pala rakyat," tegasnya.
Dari sisi volume, data perdagangan hingga Oktober 2026 mencatat produksi pala mencapai 1.411.251 kilogram atau sekitar 1.411,25 ton. Komoditas tersebut terdiri atas Pala Kulit sebanyak 850.189 kilogram, Pala Ketok 146.987 kilogram, dan Fuli atau Bunga Pala 160.407 kilogram.
Pala Kulit masih mendominasi komposisi produk yang diperdagangkan. Kondisi ini dinilai menunjukkan pentingnya menjaga kualitas hasil panen, memperbaiki penanganan pascapanen, serta meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan dan diversifikasi produk.
Di tengah perkembangan perdagangan tersebut, sektor perkebunan pala Fakfak menghadapi tantangan berupa kemarau ekstrem dan ancaman fenomena El Nino. Kondisi kekeringan di sejumlah wilayah sentra perkebunan berpotensi memengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman pala.
Dampak kekeringan dapat terjadi pada kelembapan tanah, pertumbuhan tanaman, pembentukan bunga dan buah, hingga perkembangan buah pala. Jika berlangsung dalam waktu panjang, kondisi tersebut berisiko mengganggu kesinambungan produksi dan kualitas hasil panen.
Ancaman ini menjadi perhatian menjelang musim panen Pala Barat. Ketersediaan buah matang, volume panen, serta kualitas biji dan fuli turut dipengaruhi kondisi tanaman dan lingkungan selama proses pembentukan buah.
"Jangan sampai kita hanya melihat angka perdagangan yang meningkat, tetapi mengabaikan kondisi kebun pala masyarakat yang sedang menghadapi tekanan iklim. Kemarau ekstrem dan ancaman El Nino harus menjadi peringatan bagi kita semua untuk memperkuat pemeliharaan kebun, menjaga kelembapan tanah, melakukan penyulaman tanaman yang rusak, serta memberikan perhatian khusus terhadap tanaman pala yang terdampak kekeringan," kata Widhi.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak mendorong penguatan pendataan kebun dan petani yang terdampak kekeringan melalui pemutakhiran data Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL). Upaya tersebut juga mencakup pendampingan teknis serta intervensi pemeliharaan dan pemulihan tanaman pala.
Petani turut diimbau menghindari pembakaran saat membuka atau membersihkan lahan, menjaga vegetasi pelindung, mempertahankan bahan organik tanah, serta memanfaatkan sumber air secara bijaksana.
Widhi mengatakan pengembangan Pala Tomandin akan terus diarahkan melalui Program Strategis Pala Unggul Fakfak sebagai salah satu instrumen untuk mendukung visi pembangunan daerah Fakfak Membara.
Program tersebut mencakup peningkatan produktivitas kebun, perlindungan mutu, penguatan tata niaga, pengembangan hilirisasi, diversifikasi produk olahan, serta perluasan akses pasar bagi petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Ke depan, kita ingin Pala Tomandin tidak hanya dikenal karena kualitas dan keunggulan produknya, tetapi juga karena kemampuannya memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Pala harus mampu menggerakkan ekonomi kampung, memperkuat pendapatan petani, membuka peluang usaha bagi UMKM, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Fakfak," tutupnya.
Dengan nilai transaksi perdagangan yang mencapai Rp189,39 miliar dan penerimaan retribusi sebesar Rp572,25 juta hingga Oktober 2026, Pala Tomandin masih menjadi salah satu komoditas penting bagi perekonomian Fakfak. Namun, keberlanjutan kontribusi tersebut juga bergantung pada kemampuan menjaga produktivitas kebun di tengah tekanan perubahan kondisi iklim.









